Just another WordPress.com site

Sikap (Etika dan Moral),Dalam Menggunakan Teknologi Informasi Dan Komunikasi

 

Z

aman yang serba canggih sekarang ini ditandai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat. Perkembangan teknologi manusia juga erat hubungannya dengan komputer yang sudah menjadi kebutuhan mutlak sekarang ini.

Komputer tidak saja dapat digunakan sebagai alat berhitung, tetapi juga sumberinformasi dan alat informasi. Informasi dan komunikasi dapat dilakukan karena komputer memiliki jangkauan yang sangat luas, cepat dan praktis. Kita dapat mengirimkan surat melalui e-mail (electronic mail) ke seseorang dalam waktu beberapa menit, bahkan beberapa detik keseluruh Negara. Komputer berfungsi sebagai pusan dan media informasi, untuk mencari informasi secara cepat jika sudah terhubung dengan jaringtan internet.

Penggunaan komputer sebagai teknologi informasi perlu mendapat perhatian utama agar berjalan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya, yakni manfaat dalam sikap, kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Pada bab pertama ini, kompetensi dasar yang perlu dicapai adalah untuk mengidentifikasi aturan-aturan yang berkaitan dengan sikap (etika dan moral) terhadap perangkat lunak yang digunakan untuk mengidentifikasikan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan kerja dalam menggunakan perangkat teknlogi informasi dan komunikasi tersebut.

 

 

1.1          Sikap (Etika dan Moral) dalam Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi

 

  1. Hak cipta Perangkat Lunak

 

Kata etika berasal dari bahasa yunani, ethos atau ta etha yang berarti tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan, atau adat istiadat. Menurut Aristoteles, etika digunakan untuk menunjukan filsafat moral yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan kebajikan, dan suarah hati (E.Y. Kanter2001:2). Kata moral berasal dari bahasa latin, mos atau mores yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, tabiat, watak, ahlak dan cara hidup. Dengan demikian, etika adalah ilmu tentang ajaran-ajaran moral, dengan pemikiranrasional kritis, dan sistematis. Etika menuntun seseorag untuk memahami dasar-dasar ajaran moral. Sedangkan, moral lebih mengacuh pada baik-buruknya tingkah laku manusia yang dapat menuntunya pada carah ia hidup mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukannya.

Etika dan Moral perlu mendapat perhatian yang utama dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Fungsi etika dan moral tersebut perlu diterapkan, terutama terhadap perangkat lunak atau software computer. Teknologi dan komunikasi  (Information and communication tecnology)  berorientasi pada perangkatnya, yaitu computer sebagai hardwarenya serta perkembangan softwarenya sebagai perangkat lunak. Perangkat lunak merupakan bagian dari kekayaan yang berasal dari pemikiran dan budidaya manusia. Didalam teknologi informasi, perangkat lunak atau program komputer ini lebih dihargai dari produk lainnya.

Jika berbicara perangkat lunak, maka ada kaitannya dengan masalah hakikat dan kekuatan hokum kepemilikan. Dalam menciptaka suatu kepemilikan, suatu hasil karya yang baru, perlu adanya pendefinisian sifat dan hakikat kepemilikannya. Kekayaan Intelektual (Intelectual property)  yang merupakan hasil pemikira dan budidaya manusia ini, perlu mendapat perlindungan hokum dari pembajakan maupun tindakan illegal lainnya. Yang termasuk dalm Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah:

  1. Hak Cipta (Copyraight)
  2. Merk Dagang (Trademarks)
  3. Paten (Patent)
  4. Desain Produk Industri (Industrial designs)
  5. Indikasi Geografi (Geographical Indication)
  6. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu/Layout Design (Topography of intergrated circuits)
  7. Perlindungan Informasi yang dirahasiakan (protection of undisclosed information).

Buku, CD-ROM, dan tape/kaset adalah bentuk fisik yang mempunyai paten dan hak cipta. Bagaimana dengan bentuk digital atau software yang sangat mudah sekali diproduksi tanpa ongkos dan tidak diketahui secara pasti oleh penciptanya? Untuk itulah, perlunya pengaturan tentang Hak Cipta Perangkat Lunak (software).

Hak Cipta Perangkat Lunak mempunyai dua unsure, yaitu hak cipta dan prangkat lunak (program computer). Menurut UU yang mengaturnya, hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak hasil ciptaanya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Program komputer merupakan sekumpulan intruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer, akan mampu membuat komputer  bekerja dalam melakukan fungsi-fungsi khusus atau mencapai hasil khusus, termasuk persiapan dalam merancang intruksi-intruksi tersebut. Pada pokoknya, tujuan hak cipta ini adalah untuk melindungi kreasi , pembuat film dan perangkat lunak (software).

Di Indonesia, sekitar 90% penggunaan perangkat lunak didominasi oleh produk dari Mocrosoft Corp. yaitu Windows sebagai sistem operasi dan software aplikasinya . Dengan belakunya Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) maka penggunaan software dari Microsoft baik untuk system operasinya maupun aplikasinya harus dengan software original (asli) atau dengan cara membeli nomor lisensi agar pengguna tidak terjerat pelanggaran UU Hak Cipta. Selain Microsoft, ada beberapa software yang bersifat open source, yaitu software yang dapat dimiliki dengan harga murah dan Anda diperkenankan untuk mengkopinya selama digunakan dalam proses belajar atau pendidikan serta dapat dimodifikasi selama tidak menghilangkan identitas penciptanya. Yang termasuk software open source, adalah Linux dan Open Office yang dapat didownload melalui internet. Dengan software Open Source ini diharapkan sebagai alternative para pengguna komputer untuk menghindari diri dari jeratan hokum UU Hak Cipta. Dengan harapan yang berkelanjutan software open source dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam dunia pendidikan teknologi informasi dan komunikasi.

  1. Penghargaan Terhada Kreatifitas Orang Lain

 

Sebagaimana telah diuraikan di atas, tujuan hak cipta adalah untuk melindungi kreasi penulis, seniman, pengarang, dan pemain music, pengarang sandiwara, serta pembuat film dan perangkat lunak (software). Kreasi adalah hasil dari ide atau gagasan seseorang, yang mempunyai nilai, baik dalm bentuk konkrit maupun abstrak.

Kita perlu menghargai hasil karya kreatif orang lain. Menghargai karya orang lain menunjukkan bahwa etika dan moral seseorang itu baik, terutama dalam menghargai karya dalam perangkat lunak teknologi informasi. Perlindungan terhadap karya yang sesuai UU Hak Cipta, memiliki arti bahwa pemerinta dan masyarakat tela menunjukkan itikad baik, yaitu menghargai kreasi orang yang membuat software (prangkat lunak). Peghargaan atas kreasi atau karya orang lain tersebut dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menggunaka software yang asli atau yang dengan membeli nomor lisensi.
  2. Tidak melakukan duplikasi , membajak, ataupun menyalin tanpa seizing perusahaan/pemilik
  3. Tidak menggunakan untuk tindak criminal (kejahatan).
  4. Tidak memodifikasi (mengubah), mengurangi, atau menambah hasil karya tanpa seizing perusahaan/pemilik.

 

  1. Usaha Menghindari Illegal Copy

 

Dala kehidupan masyarakat , ada sesuatu hal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan dan ada pula yang dilakukan dengan suatu pelanggaran. Tindakan tersebut dinamakan tindakan legal dan tindakan illegal. Tindakan legal adalah tindakan yang sesuai dengan ketentuan atau peraturan-peraturan formal dalam suatu Negara. Sedangkan tindakan illegal adalah tindakan yang dilakukan dengan mengabaikan atau melanggar ketentuan peraturan-peraturan formal dalam suatu Negara.

Software dan Property Digital merupakan sala satu sasaran dari tindakan illegal. Kebiasaan seprti meng-copy secara illegal sering di lalukan oleh para pengguna software baik perorangan, perusahaan, atau instansi tertentu. Kebanyakan orang masih lebih senang meng-copy software karena biayanya lebih murah daripada harus membeli software aslinya. Pada tahun 2003 kegiatan illegal copy atau membajak ini, akhirnya menempatkan Indonesia pada urutan keempat sebagai Negara dengan tingkat pembajakan tinggi setelah Vietnam, china, dan Ukraina. Kehadiran perangkat teknologi, seperti CD Read Write (CD RW), yang bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam pengamanan data yang akan disimpan dalam CD, justru disalahgunakan sebagai media yang telah memberi kesempatan dan kemudahan untuk melakukan tindakan meng-copy secara illegal ataupun membajak software-software. Tindakan meng-copy secara illegal tersebut harus dihindari karena hal ini sala satu pelanggaran yang terdapat dalam UU Hak Cipta.

 

  1. Upaya Menghindari Pengubahan atau Pemodifikasian suatu Program

 

Mengubah atau memodifikasi adalah tindakan melakukan penambahan ataupun pengurangan serta penyempurnaan suatu program. Tindakan ini sering dilakukan oleh pengguna komputer. Kegiatan membuat program atau software adalah kegiatan yang membutuhkan pemikiran tinggi. Bagaimana rasanya bila tanpa sepengetahuan Anda sebagai pembuat program ternyata, program itu diubah atau dimodifikasi oleh orang lain untuk kepentingan komersial? Untuk itu, berhati-hatilah dalam membuat suatu program pada computer anda, pastikan computer atau program aman dan terlindungi dari tindakan untuk diubah atau dimodifikasi oleh orang lain. Kita juga harus manghindari tindakan mengubah atau memodifikasi program orag lain, apabilah kalau program tersebut talah terdaftar pada hak cipta, yang berakibat kepada penjeratan UU Hak Cipta. Untuk itu, kegiatan menambah pengetahuan atau belajar pemrograman yang bukan untuk komersial, pengkopiannya dapat dilakukan dengan izin dari pembuat/pemilik program tersebut.

 

  1. Undang-Undang (UU) Hak Cipta

 

Untuk melindung Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang Hak Cipta. Undang-Undang Hak cipta yang berlaku adalah Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 tahun 2002 yang disahkan tanggal 29 juli 2003. Peraturan Hak Cipta di Indonesia sebelum UU Hak Cipta Nomor 19 tahun 2002 berlaku adalah sebagai berikut.

 

. UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun           1982 Nomor 15)

. UU Nomor 7 Tahun 1987 tentang perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1987 Nomor 42)

. UU Nomor 12 Tahun 1997 tentang perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 7 Tahun 1987  (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 29)

 

Dengan berlakunya UU Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 diharapkan seluruh masyarakat Indonesia  dapat berkreasi atau berkarya dengan nyaman tanpa takut peng-copy-an, pembajakan, ataupun pemodifikasian hasil karyanya oleh pihak lain.

 

  1. Masa Berlakunya Hak Cipta

 

Berbicara hak cipta dalam teknologi informasi berarti hak cipta terhadap software atau program komputer dan database. Sampai kapan berlakunya hak cipta? Menurut pasal 30 UU Hak Cipta Nomor 19 tahun 2002, masa berlakunya hak cipta atas ciptaan program computer dan database adalah 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dicantumkan. Selain itu , pasal 31 ayat (2) juga menyatakan bahwa hak cipta atas ciptaan yang dilaksanakan oleh penerbit berdasarkan pasal 11 ayat (2) berlaku selama 50 (lima puluh) sejak ciptaan tersebut pertama kali diterbitkan.

UU Hak Cipta menyatakan bahwa untuk hak cipta yang masa berlakunya belum habis , tetapi pemilik hak cipta tersebut telah meninggal dunia, maka hak cipta tersebut dapat diwariskan kepada ahli warisnya sampai masa berlakunya habis.

 

  1. Ketentuan Pidana Pelanggaran Hak Cipta

Pelanggaran terhadap hak cipta dapat diancam oleh Pasal 72 UU Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 sebagai beriku

 

UNDANG-UNDANGTENTANG HAK CIPTA

BAB XIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 72

 

  1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) budan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tuju) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.00.000.000,00 (lima miliar).

 

  1. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program computer dipidana denganpidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima pulu juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima pulu juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima pulu juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima pulu juta rupiah).

 

  1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

 

 

 

 

 

  1. Fungsi Hak Cipta

 

Hak Cipta mempunyai fungsi tertentu bagi pemiliknya. Menurut Pasal 2 Undang-Undang Hak Cipta, fungsi hak cipta dapat dinyatakan sebagai berikut.

  1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pengarang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya yang timbul secara otomatis setela satu ciptaan dilahirkan tanp mengurangi pembatasan menurut peraturan prundang-undangan yang berlaku.
  2. Pencipta dan atau pengarang hak cipta atas karya sinematografi dan program computer  memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.